Minggu, 19 Juni 2011

KONSEP PERUBAHAN DALAM KEPERAWATAN

A. PERUBAHAN DALAM KEPERAWATAN
Perubahan pelayanan keperawatan merupakan kesatuan yang menyatu dalam perkembangan dan perubahan keperawatan di Indonesia. Perubahan dalam keperawatan adalah suatu cara keperawatan untuk mempertahankan diri sebagai profesi dan berperan aktif dalam menghadapi era milenium, maka keperawatan Indonesia khususnya masyarakat ilmuwan dan masyarakat profesional keperawatan Indonesia, melihat dan mempersiapkan proses profesionalisasi ini bukan sebagai suatu ancaman melainkan tantangan untuk berupaya lebih keras memacu proses profesionalisasi keperawatan di Indonesia dan mensejajarkan diri dengan keperawatan di negara – negara lain.
Pelayanan keperawatan mempunyai 2 pilihan utama yang berhubungan dengan perubahan, mereka melakukan inovasi dan berubah atau mereka dapat dirubah oleh suatu keadaan dan situasi.

Ada 4 skenario masa depan yang diprediksikan akan terjadi dan harus diantisipasi dengan baik oleh profesi keperawatan Indonesia yaitu:
 Masyarakat berkembang.
Masyarakat akan lebih berpendidikan, lebih sadar akan hak dan hukum, menuntut berbagai bentuk dan jenjang pelayanan kesehatan /keperawatan yang profesional dan rentang kehidupan daya ekonomi masyarakat semakin melebar.
 Rentang masalah kesehatan melebar.
Sistem pemberian pelayanan kesehatan/ keperawatan yang meluas mulai dari tehnologi yang sangat canggih.
 IPTEK.
IPTEK harus berkembang dan harus dimanfaatkan dengan tepat dan guna.
 Tuntutan profesi terus meningkat.
Hal ini didorong oleh perkembangan IPTEK Medis, permasalahan internal pada profesi keperawatan dan era globalisasi.

Menurut toffler (1979) terdapat 4 kategori umum dari perubahan sosial yang mempengaruhi peran keperawatan yaitu:
 Pengaruh faktor – faktor lingkungan terhadap kesehatan.
 Pengeseran penekanan pelayanan kesehatan dengan lebih menekankan pada upaya pencegahan gangguan kesehatan.
 Perubahan peran dari pemberi pelayanan kesehatan.
 Cara-cara baru dalam pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan yang memberikan kepada penerima pelayanan kesehatan tanggung jawab yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan

B. JENIS DAN PROSES PERUBAHAN
Dapat dijabarkan dalam beberapa cara, yaitu perubahan yang direncanakan dan tidak direncanakan. Perubahan yang direncanakan lebih mudah dikelola dari pada perubahan yang tidak direncanakan, secara umum perubahan terencana adalah suatu proses dimana adanya pendapat baru yang dikembangkan, dikomunikasikan, kepada semua orang walaupun akhirnya akan diterima atau ditolak. Orang yang mengelola perubahan harus mempunyai suatu visiyang jelas dimana proses akan dilaksanakan dengan arah yang terbaik untuk mencapai tujuan.

C. STRATEGI DALAM PERUBAHAN
Dalam perubahan dibutuhkan cara yang tepat agar tujuan dalam perubahan dapat tercapai secara tepat, efektif dan efisien, untuk itu dibutuhkan strategi khusus dalam perubahan diantaranya:

 Strategi Rasional Empirik
Didasarkan pada manusia yang mempunyai sifat rasional maka dalam menghadapi perubahan manusia akan menggunakan sifat rasionalnya, langkah dalam perubahan atau kegiatan yang diinginkan dalam strategi rasional emperik ini dapat melalui penelitian atau adanya desiminasi melalui pendidikan secara umum sehingga melalui desiminasi akan diketahui secara rasional bahwa perubahan yang akan dilakukan benar-benar sesuai dan rasional, strategi ini juga dilakukan pada penempatan sasran yang sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki sehingga semua perubahan akan menjadi efektif dan efisien, selain itu juga menggunakan sistem analisis dalam pemecahan masalah yang ada.

 Strategi Redukatif Normatif.
Strategi ini dilaksanakan berdasarkan standar norma yang ada dimasyarakat perubahan yang akan dilaksanakan melihat nilai-nilai normatif yang ada dimasyarakat sehingga tidak akan menimbulkan permasalahan baru di masyarakat.

 Strategi paksaan – kekuatan.
Dikatakan Strategi paksaan – kekuatan karena adanya penggunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilaksanakan secara paksa dengan menggunakan kekuatan moral dan kekuatan politik, strategi ini dapat dilaksanakan dalam perubahan sistem kenegaraan, penerapan sistem pendidikan dan lain – lain.

D. STRATEGI MEMBUAT PERUBAHAN
Perubahan dalam organisasi dalam 3 tingkatan yang berbeda yaitu individu yang bekerja di organisasi tersebut, perubahan struktur dan sistem, dan perubahan hubungan interpersonal.
Strategi membuat perubahan dapat dikelompokan menjadi 4 hal:
1) Memiliki visi yang jelas.
2) Visi merupakan hal yang sederhana dan utama karena visi akan dapat mempengaruhi pandangan orang lain, visi harus disusun secara jelas, ringkas dan mudah dipahami, dan dapat dilaksanakan oleh setiap orang.
3) Menciptakan iklim atau budaya organisasi yang kondusif.
4) Menciptakan iklim yang kondusif dan rasa saling percaya adalah hal yang penting.

Menurut Porter dan Ogrady (1986) upaya yang harus ditanamkan dalam menciptakan iklim yang kondusif adalah:
1) Kebebasan untuk berfungsi secara efektif.
2) Dukungan dari sejawat dan pimpinan.
3) Kejelasan harapan tentang linkungan kerja.
4) Sumber yang tepat untuk praktek secar efektif.

 Iklim organisasi yag terbuka
Sistem komunikasi yang jelas, singkat dan berkesinambungan. Kmunikasi merupakan unsur yang penting dalam perubahan setiap orang perlu dijelaskan tentang perubahan untuk enghindari rumor tau informasi yang salah semakin banyak orang yang mengethui tentang keadaan akan semakin baik, mereka mampu dan dapat memberikan pandangan kedepan dan mengurangi kecemasan serta ketakutan terhadap perubahan, komunikasi satuarah tidak cukup dan sering menimbulkan kebingungan karen orang tidak tahu apa yang akan terjadi.

 Keterlibatan orang yang tepat
Perubahan perlu disusun oleh orang-orang yang kompeten, begitu rencana sudah tersusun maka segeralah melibatkan orang lain pada setiap jabatan di organisasi, karena keterlibatan berdampak pada dukungan dan advocacy.


E. STRATEGI UNTUK MENGHADAPI HAMBATAN DALAM PERUBAHAN

 Mengelola Perubahan.
Dalam manajemen keperawatan, seorang manajer perawat dapat menggunkan jasa konsultan untuk membuat program rekomendasi yang akan memperbaiki produktifitas personel keperawatan sambil memberikan kepuasan kerja kepada mereka, tindakan ini dapat meliputi program pendidikanuntuk memperbaiki area dimana ada masalah, perubahan yang ditangani efektif menimbulkan perbaikan pelayanan perawatan pasien, meningkatkan moral, meningkatkan produktifitas dan memenuhi kebutuhan pasien dan staf.

 Pengumpulan dan Pengembangan Data
Manajer perawat perlu mengumpulkan data tentang pekerjaan perawat yang dapat didiskusikan, dianalisa dan diugunakan untuk mempengaruhi efek perubahan, integrasi komputer dan peralatan yang diautomatsasi penting untuk mendukung proses perubahan.
Dalam membuat prubahan manajer perawat harus merencanakan untuk memungkinkan individu tidak mempelajari yang lama tetapi menggunakan yang baru. Asuhan keperawatan yang berkulitas tinggi dihasilkan dari perubahan yang dorencanakan dan dikelola secara efektif.
 Latihan dan Pendidikan.
Perawat akan membutuhkn program pengembangan staf secara tetap untuk mempertahankan pengetahuan dan kompetensi agar tidak turun kembali.
Imbalan
Dapat berbentuk finansial maupun tidak, namun imbalan penting untuk tetap mempertahankan kinerja perawat dalam menghadapi perubahan, perawat berhak mendapatkan penghargaan yang sesuai, upaya lain dalam memberikan imbalan yaitu dalam bentuk penghargaan terhadap hasil kerjanya misalnya dengan memberikan dorongan untuk pengembagan diri, hal ini dapat memberikan kepuasan bagi individual.

 Penggunaan Kelompok sebagai Agen Pembaruan.
Kelompok menjadi penting dalam pembaruan atau perubahan yang efektif, saat kelompok bekerja dengan penuh keharmonisan, manajer perawat kadang perlu menggunakan metode Tim Nursing dalam menyeesaikan masalah-masalah dalam pelayanan keperawatan yang khusus dan berpengaruh terhadap perubahan.

 Komunikasi.
Perubahan yang direncanakan perlu dikomunikasikan pada stafnya secara tepat meskipun mereka tidak secara langsung terlibat.

 Lingkungan Organisasi.
Manajer perawat akan lebih berhasil jika mereka mendapat perhatian dan dukungan dari lingkungan organisasinya sampai perubahan diperkenalkan dan dilakukan.
Aspek lainnya dalam lingkungan organisasi yang menyokong perubahan meliputi :
 Adanya mutasi dalam lingkungan pekerjaan untuk pengembangan karir.
 Mengantisipasi dalam menghargai perubahan sehingga memungkinkan institusionalisasi memodifikasi struktur organisasi keperawatan untuk mengakomodasi perubahan yang memberikan pertumbuhan dan perkembangan.


F. KUNCI SUKSES STRATEGI UNTUK TERJADINYA PERUBAHAN YANG BAIK YAITU:
1. Mulai dari diri sendiri.
Perubahan dan pembenahan terhadap diri sendiri baik sebagai individu maupun sebagai profesi merupakan titik sentral yang harus dimulai, sebagai anggota profesi perawat tidak akan pernah berubah atau bertambah baik dalam mencapai suatu tujuan profesonalisme kalau perawat belum memulai pada diri sendiri oleh karena itu selalu introspeksi dan mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang ada akan sangat membantu terhadap terlaksananya pengelolaan keperawatan kedepan.

2. Mulailah sekarang, Jangan menunggu-nunggu.
Sebagaimana disampaikan oleh Nursalam (2000), lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali, lebih baik sekarang dari pada harus menunggu-nunggu terus. Memanfaatkan kesempatan yang ada konsep merupakan manajemen keperawatan saat ini dan masa yang akan datang. Kesempatan tidak akan datang dua kali dengan tawaran yang sama.

G. MODEL DALAM PERUBAHAN

 Research And Development Model (Model Penelitian dan Pengembangan).
Model perubahan perubahan ini didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan dalam perubahan.
 Social Interaction Model (Model Interaksi Sosial).
Model perubahan dengan interaksi sosial ini dilakukan berdasarkan atas saling kerjasama dalam sistem dengan memfokuskan pada persepsi dan respons dar perubahan Roger diantaranya, menyadari akan perubahan, adanya minat dalam perubahan, melakukan evaluasi tentang hal-hal yang akan dilakukan perubahan, melalui uji coba sesuatu hal yang akan dilakukan perubahan serta menerima perubahan.
 Problem Solving Model.
Model ini menekankan pada penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi masalah, mendiagnosis masalah, menemukan cara penyelesaian masalah yag akan digunakan, melakukan uji coba dan melakukan evaluasi dari hasil uji coba untuk digunkan dalam perubahan.

H. HAMBATAN DALAM PERUBAHAN
Perubahan tidak selalu mudah untuk dilaksanakan akan tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik hambatan dari luar maupun dari dalam diantaranya hal yang menjadi hambatan dalam perubahan adlah sebagai berikut :
1. Ancaman Kepentingan Pribadi.
Ancaman kepentingan pribadi ini merupakan hambatan dalam perubahan karena adanya kekhawatiran adanya perubahan segala kepentingan dan tujuan diri contohnya dalam melaksanakan standarisasi perawat profesional dimana yang diakui sebagai profesi perawat minimal D III Keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang dahulu dan tidak ingin melanjutkan pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya sehingga hal tersebut dapat menjadikan hambatan dalam perubahan.
2. Persepsi yang Kurang Tepat.
Persepi yang kurang tepat atau informasi yang belum jelas ini dapat menjadi kendala proses perubahan. Berbagai informasi yang akan dilakukan dalam sistem perubahan jika tidak dikomunikasikan dengan jelas atau informasinya kurang lengkap, maka tempat yang akan dijadikan perubahan akan sulit menerimanya sehingga timbul kekhawatiran dari perubahan tersebut.
3. Reaksi Psikologis.
Reaksi psikologis ini merupakan faktor yang menjadi hambatan dalam perubahan karena setiap orang memiliki reaksi psikologis yang berbeda dalam merespons perbedaan sistem adaptasi pada setiap orang juga dapat menimbulkan reaksi psikologos yang berbeda sehingga bisa menjadi hambatan dalam perubahan, contohnya bila akan dilakukan perubahan dalam sistem praktek keperawatan mandiri bagi perawat. Jika perawat belum bisa menerima secara psikologis, akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai dampak dari perubahan.
4. Toleransi terhadap Perubahan.
Toleransi terhadap ini tergantung dari individu, kelompok atau masyarakat. Apabila individu, kelompok atau masyarakat tersebut memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan, maka akan memudahkan proses perubahan tetapi apabila toleransi seseorang terhadap perubahan sangat rendah, maka perubahan tersebut akan sulit diaksanakan.
5. Kebiasaan.
Pada dasarnya seseorang akan lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya atau bahkan dilaksanakan sebelumnya dibandingkan sesuatu yang baru dikenalnya, karena keyakinan yang dilmiliki sangat kuat. Faktor kebiasaan ini yang menjadikan hambatab dalam perubahan.
6. Ketergantungan.
Ketergantungan merupakan hambatan dalam proses perubahan karena ketergantungan menyebabkan seseorang tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu. Suatu perubahan akan menjadi masalah bagi seseorang yang selalu menggantungkan diri sehingga perubahan sulit dilakukan.
7. Perasaan tidak Aman.
Perasaan tidak aman juga merupakan faktor penghambat dalam perubahan karena adanya ketakutan terhadap dampak dari perubahan yang juga akan menambah ketidakamanan pada diri, kelompok atau masyarakat.
8. Norma.
Norma merupakan segala aturan yang didukung oleh anggota masyarakat dan tidak mudah dirubah. Apabila akan mmengadakan proses perubahan namun perubahan perubahan tersebut akan menghadapi hambatan. Sebaliknya jika norma tersebut sesuai dengan prinsip perubahan, maka akan sangat mudah dalam perubahan.

I. PEDOMAN UNTUK MELAKSANAKAN PERUBAHAN
Untuk terlaksananya suatu perubahan, maka hal-hal tersebut dibawah ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaannya.
1) Keterlibatan.
Tidak ada satu orangpun mengetahui semuanya. Oleh karena itu tidak menghargai kemampuan dalam pengetahuan orang lain serta melibatkannya dalam perubahan merupakan langkah awal dalam kesuksesan perubahan. Orang akan mau bekerjasama dan menerima pembaruan kalau mereka menerima suatu informasi tanpa ancaman dan bermanfaat baginya.
2) Motivasi.
Orang akan terlibat aktif dalam perubahan, kalau mereka termotivasi. Motivasi tersebut akan timbul jika apa yang sudah dilakukan bermanfaat dan dihargai.
3) Perencanaan.
Perencanaan ini termasuk dimana sistem tidak bisa berjalan secara efektif, dan perubahan apa yang harus dilaksanakan.
4) Legitimasi.
Setiap perubahan harus mempunyai aspek legal yang jelas, siapa yang melanggar dan dampak apa yang secara administratif harus diterima olehnya.
5) Pendidikan.
Perubahan pada prinsipnya adalah pengulangan belajar atau pengenalan cara baru agar tujuan dapat tercapai.
6) Manajemen.
Sebagai agen pembaharuan harus menjadi model dalam perubahan dengan adanya keseimbangan antara kepemimpinan terhadap orang dan tujuan / produksi yang harus dicapai.
7) Harapan.
Berbagai harapan harus ditekankan oleh agen pembaharu : hasil yang berbeda dengan sebelum direncanakan; terselesaikannya masalah – masalah di institusi; kepercayaan dan reaksi yang positif dari staf.
8) Asuh (nurturen).
Bimbingan dan dukungan staf dalam perubahan. Orang memerlukan suatu bimbingan dan perhatian terhadap apa yang telah mereka lakukan termasuk konsultasi terhadap hal–hal yang bersifat pribadi.
9) Percaya.
Kunci utama dalam pelaksanaan perubahan adalah berkembangnya rasa percaya antar tim. Semua yang terlibat harus percaya kepada agen pembaharu dan agen pembaharu juga harus percaya kepada staf yang terlibat dalam perubahan.


J. CHANGE AGENT
Dalam perkembangan karier profesional, setiap individu akan terpanggil untuk menjadi agen pembaharu. Menjadi agen pembaharu akan menjadikan hal yang sangat menarik dan menyenangkan sebagai bagian dari peran profesional. Keadaan tersebut akan terjadi, jika anda merespon setiap suatu perubahan disekeliling anda (Vestal, 1999).
1. Pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol perilaku anda cara bagaimana anda mengelola perubahan. Anda dapat memilih sebagai pioner, penjelajah dan seorang yang berfikiran positif serta pelaku dengan motivasi yang tinggi. Anda dapat memulai dengan mengurangi/menghilangkan hambatan – hambatan dan memulai setahap demi setahap. Kali ini tidak berat untuk melihat perawat dapat mengontrol perilaku tersebut, sehingga perawat akan menjadi pemimpin yang baik pada masa depan.
2. Untuk menjadi seorang agen pembaharu yang efektif, anda perlu menjadi bagian dari perubahan. Tidak menjadi orang yang resisten terhadap perubahan, berpartisipasi aktif dalam perubahan yang sedang berlangsung akan menjadikan peran anda menjadi lebih bermakna dikemudian hari.
3. Menseleksi setiap suatu fenomena dan memilih hal – hal yang akan dirubah. Perubahan bukan hanya hal – hal yang mudah, tetapi hal – hal yang membutuhkan suatu tantangan. Sebagaimana orang bijak mengatakan “siapa saja bisa berhasil menyebrangi di laut yang tenang, tetapi keberhasilan menyebrangi ombak akan mendapatkan penghargaan yang sesungguhnya”.
4. Hadapilah setiap perubahan dengan senang dan penuh humor. Yakinkan bahwa perubahan adalah hal yang sulit, dan menjadi agen pembaharu akan lebih sulit. Jika anda mengalami stres karena terlalu serius dalam perubahan tersebut, maka anda akan mengalami gangguan kesehatan.
5. Selalu berpikiran ke depan daripada hanya merenungi hal – hal yang sudah terjadi pada masa lalu (fix the past). Berpikirlah suatu cara terbaru dan kesempatan untuk terlaksananya suatu perubahan. Belajarlah dari kesalahan, dan brpikir terus ke depan akan menjadikan anda seorang agen pembaharu yang sukses. Hal yang harus disadari bahwa apa yang akan anda lakukan sekarang belum tentu dapat bermanfaat untuk masa depan. Oleh karena itu kesuksesan dalam perubahan harus disertai langkah – langkah antisipatif untuk kesuksesan institusi di masa depan.

PENUTUP
Dalam perkembangan keperawatan juga mengalami proses perubahan seiring dengan kemajuan teknologi. Alasan terjadinya perubahan dalam keperawatan antara lain:
1. Keperawatan sebagai suatu profesi yang diakui oleh masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan melalui asuhan keperawatan tentu akan dituntut untuk selalu berubah ke arah kemandirian dalam profesi keperawatan, sehingga sebagai profesi akan mengalami perubahan ke arah profesional dengan menunjukkan agar profesi keperawatan diakui oleh profesi bidang kesehatan yang sejajar dalam pelayanan kesehatan.
2. Keperawatan sebagai bentuk pelayanan asuhan keperawatan profeional yang diberikan kepada masyarakat akan terus memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat dengan mengadakan perubahan dan penerapan model asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan lingkup praktek keperawatan.
3. Keperawatan sebagai ilmu pengetahuan harus selalu berubah dan berkembang sejalan dengan tuntutan zaman dan perubahan teknologi, karena itu dituntut selalu mengadakan perubahan melalui penelitian keperawatan, sehingga ilmu keperawatan diakui secara bersama oleh disiplin ilmu yang lain yang memiliki landasan yang kokoh dalam keilmuan.
4. Keperawatan sebagai komunitas masyarakat ilmiah harus selalu menunjukkan jiwa profesional dalam tugas dan tanggung jawabnya dan selalu mengadakan perubahan sehingga citra profesi tetap bertahan dan berkembang.

3 komentar: